Dyahni Mastutisari

Lulusan FKIP UNS Solo Jurusan Pendidikan Matematika. Sekarang bertugas di MTs Swasta di Kabupaten Banyumas...

Selengkapnya

Bajuku Dipakai Muridku

Ini hanya kisah sederhana. Dari kesederhanaannya saya bisa mengambil hikmah yang tidak sederhana. Kisah ini berawal 4 bulan yang lalu, saat bulan Ramadhan 1439 H sedang bergulir. Saat semua umat islam sedang diuji oleh Allah. Dengan ujian berat yang harus dilewati selama satu bulan.

Saat itu 10 hari menjelang hari raya Idul Fitri. Seperti emak-emak pada umumnya, saya pun ikut berdesak-desakan di sebuah toko. Sekedar membeli beberapa lembar baju. Untuk diberikan kepada orang tua dan mertua. Setelah semua yang diinginkan didapatkan. Saya langsung menuju ke tempat kasir. Disana sudah ada wanita paroh baya keturunan tionghoa. Beberapa lembar uang kertas berwarna merah berpindah tangan.

“Terima kasih, besok datang lagi ya?, ini hadiahnya”, wanita keturunan tioghoa itu berkata kepada saya sembari memberikan sebuah bungkusan.

“ Terima kasih,chi,” jawabku senang mendapatkan hadiah.

Saya membuka bungkusan hadiah di rumah ibu. Isinya kemeja putih polos yang bahannya lumayan tipis. Sedikit kecewa saya berkata,

“Ini buat apa ya, Bu?”

“Disimpan saja siapa tahu suatu saat ada yang membutuhkan”. Ibu menjawab dengan bijaksana

Akhirnya saya turuti perkataan ibu. Saya simpan kemeja tersebut di rak lemari paling bawah. Hingga beberapa minggu yang lalu. Edi murid kelas IX A setiap hari senin dan selasa tidak pernah menggunakan seragam OSIS. Awalnya ketika saya bertanya kenapa tidak memakai seragam OSIS. Dia hanya menjawab belum dicuci. Minggu depannya seperti itu lagi. Akhirnya dia berkata jujur ketika saya bertanya lagi padanya. Ternyata baju atasannya sudah kekecilan sehingga dia malu memakainya.

Edi berasal dari keluarga kurang mampu. Bapaknya kerja serabutan sedangkan ibunya menjadi pembantu rumah tangga. Saya pun tidak tega jika menyuruhnya untuk membeli kemeja baru. Sementara untuk uang jajan saja dia kesulitan. Saya teringat kembali dengan kemeja yang dulu sempat saya sepelekan. Saya tawarkan kepada Edi.

“Ed, bu guru kasih baju mau?

“Mau, bu”. dia menjawab dengan antusias.

Hari ini hati serasa begitu hangat melihat Edi memakai baju pemberian saya. Baju kemeja putih yang pas dibadannya. Dengan postur badan yang lumayan tinggi dia terlihat begitu gagah. Laksana security bank. Ya, Edi hanya mempunyai cita-cita sebagai satpam. Cita-cita yang sangat sederhana. Sesederhana kehidupannya. Semoga cita-citamu terwujud bahkan melebihi keinginananmu, nak.

Patikraja, 2 Oktober 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Wah ...cerita yang sangat menyentuh...salam ya buat Edi....

02 Oct
Balas

Insyaallah Bu Rini

02 Oct

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali