Dyahni Mastutisari

Lulusan FKIP UNS Solo Jurusan Pendidikan Matematika. Sekarang bertugas di MTs Swasta di Kabupaten Banyumas...

Selengkapnya

Teguran Seorang Guru

Membaca tulisan Bu Meynia berjudul "Jangan Larang Mereka Bercanda dan Bermain". Saya sepakat dengan hal itu. Tentu dengan syarat bahwa bercanda dan bermainnya tidak pada saat jam pelajaran. Dan tentunya bermainnya juga dalam hal yang positif. Serta bercanda yang tidak berlebihan.

Sebagai seorang pendidik tentu sangat wajar jika kita harus menegur atau mengingatkan siswa yang bermain disaat yang tidak tepat. Terutama pada saat jam pelajaran. Itu pula yang saya lakukan tadi siang di sekolah. Kegiatan pesantren kilat yang dilaksanakan di sekolah kami sudah dimulai dari kemarin hari selasa dan insyaallah akan selesai pada hari jum'at besok.

Untuk mengisi waktu istirahat, sebagian siswa laki-laki bermain sepak bola. Kami para guru membiarkan saja. Walaupun sering timbul pertanyaan, apa tidak capai sedang puasa kok main sepak bola? Tapi itulah anak-anak. Bel masuk pun berbunyi. Tanda siswa harus kembali masuk ke kelas masing-masing untuk kembali menerima materi pesantren kilat.

Ketika saya sedang menuju kamar mandi, masih tampak segerombolan siswa laki -laki belum menghentikan permainan sepak bolanya. Saya pun menegur "Sudah masuk, Mas. Bolanya disimpan dulu". Tapi tampaknya mereka tidak menghiraukan teguran gurunya. Dan masih asyik bermain sepakbola.

Sekembalinya saya dari kamar mandi. Terlihat seorang anak menendang bola dengan sangat keras "bug". Karena saking kerasnya bola pun melayang keatas dan mendarat tepat di atap ruang koperasi. Kemudian terdengar suara riuh "wah". Dengan sendirinya permainan bola pun berakhir.

Saya hanya tersenyum melihat kekecewaan mereka. Dalam hati saya berkata "makanya diberi tahu bu guru nurut, tuh kan bolanya melayang". Akhirnya mereka pun masuk ke kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan pesantren kilat.

Patikraja, 6 Juni 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Hehehe...begitulah anak-anak, bunda. Kalau belum terjadi "sesuatu" yaa belum berhenti. Masih sebegitu pemahamannya. Semoga kita bisa sabar untuk selalu mengingatkan dan menasehati mereka. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

06 Jun
Balas

Asmuni..jazakillah khoir untuk doanya bunda. Barakallah

07 Jun

Maaf...Aamiin maksudnya

07 Jun

Pengalaman ibu beda denganku, kalau siswaku lebih ekstrim. Sama-sama waktu kegiatan pesantren kilat, ada 5 anak yang tidak masuk sekolah. Semua laki-laki. Ketika kukroscek ke yang bersangkutan, alasannya macam-macam. Ada yang bilang sakit tapi belum kirim surat. Ada yang bilang bangun kesiangan terus nggak masuk sekaian. Ada yang dengan jujur mengakui memang alpha. Nhah yang satu nih, alasannya, di sekolah juga cuma main game. Padahal di sekolah kegiatan pesantren kilatnya cukup padat dan melibatkan pihak ketiga, sebuah universitas. Yah..akhirnya jadi nambah tugas sebagai wali kelas juga, lha harus ngurusi anak-anak begitu. Sabar...sabar...

07 Jun
Balas

Itulah anak-anak bunda, kita sebagai guru harus mempunyai stok sabar yang buanyaaak. ..he..he..Terimakasih untuk kunjungannya bu Eko

07 Jun

Pengalaman ibu beda denganku, kalau siswaku lebih ekstrim. Sama-sama waktu kegiatan pesantren kilat, ada 5 anak yang tidak masuk sekolah. Semua laki-laki. Ketika kukroscek ke yang bersangkutan, alasannya macam-macam. Ada yang bilang sakit tapi belum kirim surat. Ada yang bilang bangun kesiangan terus nggak masuk sekaian. Ada yang dengan jujur mengakui memang alpha. Nhah yang satu nih, alasannya, di sekolah juga cuma main game. Padahal di sekolah kegiatan pesantren kilatnya cukup padat dan melibatkan pihak ketiga, sebuah universitas. Yah..akhirnya jadi nambah tugas sebagai wali kelas juga, lha harus ngurusi anak-anak begitu. Sabar...sabar...

07 Jun
Balas

Seorang guru harus sabar, apalagi kalau itu guru matematika. Banyak anak tidak menyukai pelajaran ini. Tapi kita harus berusaha agar mereka menyukai pelajaran matematika. Inilah pekerjaan dan tantangan bagi guru matematika.Semangat dan sabar....sabar... sabar

07 Jun
Balas

Njih ibu terima kasih atas saran dan masukannya.

07 Jun

kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum menjadi seperti kita. Sudah seharusnya kita bisa dan tahu bagaimana memperlakukan mereka

09 Jun
Balas

Njih bunda terima kasih atas kunjungannya

10 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali