Dyahni Mastutisari

Lulusan FKIP UNS Solo Jurusan Pendidikan Matematika. Sekarang bertugas di MTs Swasta di Kabupaten Banyumas...

Selengkapnya
Buku Perdana: Merajut Asa Menjadi Bunda
Cover Buku

Buku Perdana: Merajut Asa Menjadi Bunda

Sudah menjadi naluri alamiah seorang perempuan yang telah menikah yaitu ingin memiliki keturunan. Mendengar suara yang keluar dari bibir mungil yang memanggil dengan panggilan ibu, mamah, bunda, umi atau panggilan yang lainnya. Semakin menguatkan posisinya sebagai seorang wanita yang sempurna. Sempurna karena sudah bisa hamil dan melahirkan. Itulah yang menjadi impian dan harapan setiap wanita.

Namun tatkala impian itu belum terwujud, maka rajutan asa pun mulai dipintal. Yang terkadang benang untuk merajut “bundet” atau bahkan putus tapi asa akan selalu ada. Meluruskan kembali benang yang bundet atau mengganti benang yang putus dengan benang yang baru. Supaya rajutan itu tetap indah.

Merajut Asa Menjadi Bunda adalah buku perdana penulis yang berisi 19 kisah penulis dalam menggapai asanya menjadi seorang bunda. Buku setebal 94 halaman ini ditulis dengan gaya bertutur yan renyah, mengalir ringan, dan sangat mudah dicerna memudahkan pembaca untuk mengambil hikmah dari setiap kisah. Buku yang sangat inspiratif ini cocok dibaca semua kalangan, terutama para pendamba momongan. Yang berkenan dengan buku ini bisa menghubungi nomer : 085726053866

Judul Buku : Merajut Asa Menjadi Bunda

Penulis : Dyahni Mastutisari

ISBN : 978-602-468-564-5

Editor : Nining Suryaningsih

Penerbit : Pustaka Media Guru

KATA PENGANTAR

Oleh Farida Nurhasanah, M.Pd

(Dosen Universitas Sebelas Maret Surakarta)

Menelusuri kata demi kata yang dirangkai oleh “Mba Tutik”, begitu saya dan kawan-kawan memanggil penulis, serasa kita dibawa hanyut mengalami setiap penggalan kisah hidup yang diceritakan. Mengalir ringan, dan sangat mudah dicerna sehingga mudah bagi pembaca mengambil hikmah dari setiap kisah.

Ketika banyak pasangan saat ini memandang mahligai rumah tangga sebagai “sekadar” tempat bermuara kisah cinta mereka dengan berlangsungnya pernikahan, penulis justru memberikan sudut pandang yang berbeda. Menggambarkan bagaimana menjadikan ikatan suci pernikahan sebagai sebuah ibadah, sehingga setiap masalah yang sering ditemui pada pasangan muda baik muda maupun tidak, dapat dilalui bersama dengan dua senjata yang paling ampuh dalam menghadapi kehidupan yaitu “sabar dan syukur”. Sabar ketika diberi ujian dan syukur ketika mendapat limpahan rahmat dan karunia-Nya.

Buku ini sangat inspiratif baik bagi mereka yang belum menikah, sebagai sarana untuk mempersiapkan diri sebelum masuk ke dalam mahligai rumah tangga. Sehingga tidak melulu membayangkan pernikahan sebagaimana seperti kisah-kisah dalam film india yang penuh romantisme semu, sehingga ketika menikah nanti tidak mudah baper dan mudah mengambil keputusan untuk bercerai hanya karena masalah-masalah sepele seperti alasan “suami yang tidak romantis” atau “mertua yang cerewet”.

Kisah hidup Mba Tutik juga sangat bermanfaat bagi para pasangan baik bagi yang masih muda maupun tidak, yang seringkali masih sangat bersemangat dan menggebu-gebu dalam mengupayakan hadirnya buah cinta dalam mahligai mereka. Kesabaran Mba Tutik dalam menghadapi ujian terberat setiap pasangan ketika buah hati harus kembali pada Ilahi dan penantian yang panjang dalam mengupayakannya, kembali memberikan inspirasi dalam menghadapi badai ujian dalam rumah tangga hingga kebahagiaan yang dinanti datang.

Yang terakhir, bagi para wanita dimana saja, baik yang sedang menanti pasangan hidup maupun yang sedang menjalani peran sebagai istri. Kisah hidup Mba Tutik ini sangat menginspirasi, khususnya bagian ketika mengisahkan bagaimana Mba Tutik menerima segala kekurangan suami baik dalam hal agama maupun secara finansial. Beliau tidak menyerah melainkan dan berusaha untuk mengajak dan mengajari suami mengaji maupun memberi solusi agar suami bertumbuh dan berkembang. Hal ini sulit sekali ditemui pada perempuan saat ini yang seringkali inginnya mendapatkan jodoh yang sudah mapan segalanya. Sekali lagi terlihat jelas bagaimana gambaran sikap perempuan yang mengupayakan mahligai pernikahan sebagai pintu gerbang menuju ke surga-Nya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

ikut gembira bun

28 Jun
Balas

Terimakasih Pak Tanto

28 Jun

Selamat, Bu. Semoga segera disusul buku berikutnya.

28 Jun
Balas

Aamiin..semoga. Terimakasih Pak Edi

28 Jun

Selamat bu Dyahni, buku perdananya semoga sukses di pasaran

28 Jun
Balas

Njih Pak..Aamiin ya robbal'alamin

28 Jun

alhamdulillah...selamat bu, moga berkah

29 Jun
Balas

Amiin...amiin terima kasih bu hanum

29 Jun

Baarakallah...bunda. Semoga segera menyusul "adik baru" baik dari si "kakak" atau juga dar bukunya. Salam sehat dan sukses selalu....bunda.

28 Jun
Balas

Amin 100 x...terima kasih bunda

28 Jun

Wah, keren bu Tutik bukunya. Semoga memotivasi terbitnya buku berikutnya. Amin YRA.

28 Jun
Balas

Aamiin...terima kasih bu Eko atas apresiasinya

28 Jun

Wah selamat sudah menerbitkan buku perdananya Bu. Sukses dan terus berkarya.

28 Jun
Balas

Terima kasih pak Ayo atas apresiasinya

28 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali