Dyahni Mastutisari

Lulusan FKIP UNS Solo Jurusan Pendidikan Matematika. Sekarang bertugas di MTs Muhammadiyah Patikraja Kabupaten Banyumas...

Selengkapnya

Ketakutan yang Kebangetan

Membaca tulisan Mas Eko Prasetyo tentang kucing pintarnya mengingatkan diri saya pada sosok binatang yang saya takuti. Entahlah sejak kecil saya alergi dengan binatang bermuka lucu dan menggemaskan ini. Sebersih dan secantik apapun kucing tersebut tidak akan membuat hati saya tersentuh untuk sekedar menggendongnya.

Takut yang kebangetan menurut saya. Baru didekati kucing, sudah jimprak-jimprak menyuruh pemiliknya untuk membawanya pergi jauh. Melihat kucing yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu rumah kagetnya minta ampun. Sampai-sampai pintu ditutup dengan keras supaya si kucing tidak jadi masuk. Waduh gimana nih?

Muka memelas si kucing ketika aroma ikan asin asin yang saya goreng tercium olehnya disertai suara meongannya yang mengiba, tetap tidak membuat hati saya tersentuh untuk sekedar berbagi kepala ikan dengannya. Sungguh terlalu.

Bahkan baru-baru ini lebih terlalu lagi. Sore itu saya sendirian di rumah. Memasak opor ayam pesanan suami. Saya kira aromanya pun tidak menyengat hidung. Tapi tiba-tiba dari arah pintu depan terdengar suara 'gludak', saya pikir suami dan anak pulang. Ternyata kucing tetangga loncat masuk rumah lewat pintu garasi yang setengahnya terbuka.

Segera saya tutup pintu penghubung dapur dan garasi. Aman. Tak berapa lama terdengar lagi meongannya dari pintu belakang. Waduh saya bingung dong. Segera saya ambil air satu gayung. Berr.....kucing berbadan gendut itupun pergi. Aman lagi saya kira.

Benar yang dikatakan Mas Eko, kucing itu memang binatang pintar. Ditolak dari pintu depan dan belakang tidak menyurutkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah. Dia punya akal. Masuklah dia melalui jendela kamar. Hup...meloncat dan berjalan dengan santai menuju dapur.

Sebelum sampai dapur. Suara meongannya terdengar oleh saya. Kembali senjata pamungkas, air satu gayung saya cipratkan ke tubuhnya yang gempal. Dia menghindar masuk kembali ke kamar tempat dia tadi meloncat. "Grek" pintu saya tutup. Aman lagi. Biarlah kalau pun dia betah di dalam sana, nanti suami saja yang membawanya keluar. Sungguh saya takut sekali.

Cerita menjelang malam, 4 Maret 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sama Bu aku juga takut, dengan cakarnya yang menurutku siap menerkam. Sukses selalu dan barakallah fiik

04 Apr
Balas

He..he..ternyata Bunda Pipi takut juga ya?

04 Apr

Siki aku wis ora wedi karo kucing....

05 Apr
Balas

Hi...hi...aku esih wedi Budhe

05 Apr

Aku paling gak suka dengan bau kotorannya Bu n. Juga bulu2nya yang bertebaran di mana2 tempat mereka berada

05 Apr
Balas

Benar Bunda...ternyata ada juga yang tidak suka kucing seperti saya. Terima kasih kunjungannya Bunda Noor

05 Apr

Ea!

05 Apr
Balas

Ea..ea... Terima kasih berkenan berkunjung Pak Aly...see you again

05 Apr

Yang pasti...kucing itu selalu menjaga kebersihan, dengan cara menutupi kotorannya. Kecuali satu kucing, kucing garong

04 Apr
Balas

Begitu ya Pak..apapun jenis kucing saya takut...terlebih kucing garong..he..he..terima kasih untuk apresiasinya A

04 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali