Dyahni Mastutisari

Lulusan FKIP UNS Solo Jurusan Pendidikan Matematika. Sekarang bertugas di MTs Swasta di Kabupaten Banyumas...

Selengkapnya

Sepi di Tengah Keramaian

Di tengah hiruk pikuk acara silaturahim sebuah keluarga besar. Duduk seorang diri lelaki tua berusia sekitar 70-an di pojok ruang tengah. Tidak ada yang peduli dengannya. Kalaupun ada yang menyapa, itu hanya sekedarnya saja. Setelah itu semua sibuk dengan aktivitas masing-masing. Para bapak berkumpul di ruang tamu berbincang tentang berbagai hal. Sedangkan ibu-ibu berkumpul di dapur dengan perbincangan yang tidak jauh dari resep kue lebaran. Sementara para “mahmud”, panggilan untuk mamah muda, berkumpul di ruang tengah mengelilingi bayi berusia lima bulan yang sedang lucu-lucunya. Suasana tambah ramai dengan suara tawa riang dan gelak tawa anak-anak balita yang sedang berlarian kesana-kemari.

Semua merasa gembira di hari yang fitri ini, tetapi tidak dengan lelaki tua tadi. Mata kosongnya menatap sekitar tanpa gairah. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dia pun enggan bergabung dengan kelompok bapak-bapak. Usia tuanya sudah membuat dia lupa tentang banyak hal. Sehingga orang lain sering tidak betah mengobrol dengannya. Di rumah pun dia tidak banyak bicara. Dia lebih suka beres-beres rumah. Walaupun tenaganya tidak sekuat dulu, dia masih bisa menyapu, mencuci dan mengepel semampunya. Hanya itu aktivitas yang bisa dilakukannya untuk membunuh kesepian yang sekarang sering dia rasakan. Istri dan anak bungsunya yang satu rumah sering tidak mempedulikannya. Jika dia mengobrol dengan istrinya, ujung-ujungnya istrinya marah karena dia sering tidak paham dengan apa yang dibicarakan. Usia tua telah membuat dia menjadi pikun.

Keadaan yang tidak dia inginkan di usia yang sebenarnya bagi orang lain belum saatnya untuk pikun. Tapi entahlah dia merasa sekarang sudah semakin pelupa dan fisiknya juga semakin lemah. Keseimbangan yang semakin menurun, membuat dia sering terjatuh ketika berjalan. Gigi yang ompong membuat dia susah untuk menguyah makanan. Banyak hal yang membuat dia semakin tidak percaya diri. Apalagi di saat momen silaturahmi seperti sekarang ini. Kembali dia menatap keriuhan orang-orang disekitarnya dengan tatapan kosong. Menu makan siang berupa bakso sudah mulai dihidangkan. Satu persatu mendapatkan suguhan makanan yang sangat menggoda selera itu. Tapi kembali dia merasa tidak ada mempedulikannya. Tidak ada mangkok bakso yang di suguhkan di hadapannya sementara yang lain sudah mendapatkannya. Dia merasa nelangsa, matanya mulai terasa berat seperti ada yang mau jatuh.

“Pak, niki baksonya di dahar riyin!” (Pak, ini baksonya dimakan dulu).Tiba-tiba anak perempuannya yang nomer dua menghidangkan bakso di depannya.

“Kulo potong-potong riyin nggih, pak?”, kemudian dengan sigap anaknya memotong-motong bulatan bakso menjadi ukuran yang lebih kecil. Sehingga dia mudah memakannya. Alhamdullilah masih ada yang memperhatikanku, batin lelaki tua tadi.

Di usia yang sudah senja seperti ini ditambah dengan kepikunannya. Yang dia butuhkan hanya perhatian dan penghargaan dari orang lain terutama orang-orang terdekatnya. Bukan cemoohan atas ketidakmampuannya mengingat sesuatu. Bukan juga kemarahan ketika dia terjatuh karena belum pas menggunakan sandal. Ataupun ketika dia makan banyak nasi yang berserakan di meja. Sungguh dia tidak menginginkan itu. Yang dia inginkan adalah perhatian dan penghargaan. Dia ingin diajak berbincang, diajak rekreasi, diajak makan-makan juga. Janganlah dia dimarahi, jangan pula dicemooh itu sangat menyakitkan hati. Janganlah menganggap kepikunannya sebagai sesuatu hal yang memalukan. Karena semua orang insyaallah akan mengalami hal itu juga.

Banyumas, 19 Juni 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Jadilah orang bijak, mungkin nasehat ini berguna.

19 Jun
Balas

Njih bun, terima kasih atas kunjungannya

21 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali